oleh

Merasa Ditipu, Ahli Waris BPJS Ketenaga Kerjaan Resmi Melapor ke Polda Sumatera Utara

Sumut, lintas10.com- Sri Hartati ahli waris dari almarhum orang tuanya Nurpida Sembiring yang tercatat di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenaga kerjaan (BPJSTK), merasa ditipu oleh R.Mrbn atas penerimaan santunan biaya kematian orang tuanya yang di daftarkan di BPJS TK lewat jalur mandiri.

Ia pun lantas tak terima akibat dituding sebagai penanggung jawab atas sejumlah uang klaim BPJS TK yang di sebut – sebut agar dikembalikan ke pihak BPJS TK.

Alhasil, ahli waris atas nama Sri Hartati melaporkan hal tersebut kepada Aparat Penegak Hukum (APH) sebagai bentuk protesnya, bahwa Ia tidak ada menerima uang klaim Asuransi seperti yang dituduhkan itu, ujarnya di halaman Mapolda Sumut yang berada di jalan Sisimangaraja Amplas, Senin (15/02/2021) sekira pukul 15.00 wib.

Dalam laporannya tersebut, ahli waris Sri Hartati mengharapkan pihak Kepolisian Polda Sumatera Utara, agar mengusut tuntas dalang dari pada oknum BPJS TK yang terlibat untuk memuluskan orang tuanya alm Nurpida Sembiring sebagai penerima BPJS TK.

” Orang tua saya dalam keadaan sakit koma di daftarkan oleh R,mrbn sebagai anggota BPJS TK jalur mandiri, saya tak ngerti itu. dia manfaatkan almarhum orang tua saya untuk mendapatkan klaim Asuransi BPJS TK senilai 41.997,000., akan tetapi saya tidak tau dan tidak ada menerima” ujar ahli waris.

Setelah diberitakan sebelumnya, Nurpida Sembiring peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenaga kerjaan (BPJSTK) di soal. Nurpida diketahui terdaftar pada BPJS TK Kerja pada tanggal 06 juni 2020.

Menurut hasil investigasi Media ini beberapa minggu terakhir bahwa ada kejanggalan terkait kepesertaan Nurpida Sembiring di BPJS TK, pasalnya di duga dalam keadaan sakit keras alias kondisi Koma Ia didaftarkan oleh seseorang berinisial nama R. Mrbn ke pihak BPJS TK.

Baca Juga:  Diduga Terlibat Narkoba Warga Dayun Di Bekuk SATRESNARKOBA POLRES Siak

Hal ini pun di duga hanya bentuk akal akalan R. Mrbn saja untuk meraup keuntungan pribadinya, pasalnya menurut penuturan pihak keluarga kepada Media ini bahwa Ahli waris Sri Hartati tidak mengetahui terkait klaim pencairan dana BPJS TK tersebut.

“Kami hanya mengetahui pada saat pencairan, kami hanya disuruh menyiapkan Kartu keluarga dan KTP,” ucapnya.

Ahli waris Sri Hartati, warga Durin Tonggal Kecamatan Pancur Batu, Kab Deliserdang, Sumatera Utara ini menuturkan ikhwal permasalahan ini mencuat pasca ibunda tercintanya sedang sakit keras dan Koma serta sedang menjalani masa perawatan di salah satu Rumah sakit di Pancur batu pada bulan mei tahun 2020.

Ditambah karena kondisi Nurpida Sembiring (alm) semakin memburuk, maka dirujuk ke rumah sakit Lubuk Pakam. Pada saat inilah datang tawaran dari R. mrbn dengan iming-iming biaya berobat akan di bayarkan olehnya, yang mana pada saat itu pihak keluarga Nurpida Sembiring telah terhutang sebanyak 5 juta rupiah ke pada pihak Rumah Sakit.

Selanjutnya R. Mrbn meminta berkas dokumen Sri Hartati sebagai syarat untuk memuluskan pendaftaran BPJS TK nya tanpa diketahui ahli waris tujuan dari Kartu keluarga dan EKTP yang diminta R.Mrbn.

Setelah berkas semuanya selesai dan Nurpida Sembiring telah terdaftar di BPJS TK sesaat kemudian, Nurpida Sembiring meninggal dunia di Rumah Sakit Lubuk Pakam.

Baca Juga: Kasat Reskrim Polres Siak AKP Hidayat Pelana SIK : Bagi Yang Merasa Kehilangan Sepeda Motor Segera Datang Ke Mapolres Siak
Pada saat inilah klaim BPJS TK tersebut di cairkan, dengan intens R. Mrbn menghubungi Ahli waris. Serta mempertanyakan dan meminta buku tabungan ahli waris.

“Saya pun bingung di desak terus, sudah masuk, sudah masuk,” katanya menirukan ucapan R.Mrbn.

Baca Juga:  Di vaksin setelah Gubsu, Kapolda Sumut : “Forkopimda Sumut jadi bukti untuk masyarakat Sumut bahwa vaksinasi covid -19 Aman untuk kesehatan”

Ironisnya, setelah dana klaim BPJS TK cair dan di transfer melalui rekening ahli waris sejumlah Rp 41.997,000., pada tanggal 14/01/2021. R. Mrbn kembali meminta agar di transferkan kepadanya 38 juta rupiah ke rekening pribadinya. Dan ahli waris hanya di berikan 4 juta rupiah.

Untuk selanjutnya, rekanan R. Mrbn inisial nama Mrlo Htbrt menelepon R. Mrbn juga meminta 3.200.000., yang katanya untuk disetor ke pihak BPJS TK.

Dari rentetan hasil investigasi tersebut, Media ini mencoba mengkonfirmasi kepada Pihak BPJS TK. Melalui Kepala bidang pelayanan Dahlia Libriana menuturkan bahwa atas nama Nurpida Sembiring benar terdaftar di BPJS TK pada tanggal 06 juni 2020. Pihaknya juga membantah keras keterlibatan pihak BPJS terkait isu tersebut.

“Benar yang bersangkutan terdaftar di BPJS TK melaui jalur mandiri pada tanggal 06 juni 2020,” sebutnya.

“Dan surat kematian Alm juga disebabkan tersambar petir, lengkap dengan tanda tanda tangan Pemerintahan Desa dimana Nurpida tinggal,” pungkasnya.

Hal ini lantas menjadi janggal, mengingat kematian Nurpida Sembiring meninggal dunia di Rumah Sakit Lubuk Pakam.

Lantas sejumlah pihak pun menuding ada dugaan jaringan besar yang telah lama kong kalikong dengan Oknum pihak BPJS TK ini. pasalnya, mustahil data pemohon tersebut bisa lolos karena sudah dalam keadaan sakit koma alias sekarat.



Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jangan Lewatkan