Home / Provinsi Kalimantan Tengah / Pengguna Alat Penguat Sinyal (Repeater) Marak, Dan Diduga Ilegal

Pengguna Alat Penguat Sinyal (Repeater) Marak, Dan Diduga Ilegal

Lintas10.com (Seruyan/Kalteng) – Sampai dengan sekarang ini, penggunaan pada alat penguat sinyal (Repeater) di wilayah Kabupaten Seruyan, kususnya yang berada di kecamatan seruyan hilir dan seruyan hilir timur, terlihat dengan semakin bertambah banyak (Marak). Sedangkan penggunaan pada alat penguat sinyal (Repeater) tersebut pada dengan diduga tanpa ada izin (Ilegal), pasalnya, dimana hal tersebut bisa menyebabkan terhadap pada gangguan jaringan komunikasi nasional. 

Banyaknya alat penguat sinyal (repeater) yang dengan pada diduga kuat ilegal tersebut, dimana pada merugikan masyarakat karena bisa akan menurunkan pada kualitas layanan telekomunikasi.

Apalagi, terlihat dari pantauan kalau penguat sinyal (Repeater) yang jumlahnya dengan sekarang ini sudah amat banyak dan tidak terkendali pada lagi. Mengakibatkan berdampak dengan gangguan sinyal (interferensi) meningkat, berakibat kecepatan akses seluruh operator seluler menjadi turun drastis.

Jika dipakai, repeater tidak boleh dipakai sembarang pihak. Dan harusnya, hanya dipakai oleh operator seluler itu sendiri, itupun wajib memakai frekuensinya masing masing.

Adapun untuk perangkat penguat sinyal tersebut, beberapa diantaranya sudah tersertifikasi oleh Ditjen SDPPI, akan tetapi penggunaan perangkat penguat sinyal hanya diperuntukkan kepada penyelenggara telekomunikasi seluler yang telah memiliki izin dan tidak digunakan oleh pribadi atau masyarakat umum. Atau harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yaitu UU 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi Jo PP No 53 Tahun 2000 tentang Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Perangkat ini berbentuk seperti sebuah decorder, yang memiliki pemancar dan dipasang di berbagai sudut ruang perkantoran maupun perumahan. Misalnya, di suatu wilayah ada seseorang yang memasang repearter dengan kapasitas yang berlebihan, maka hanya orang tersebut yang meraih sinyal bagus. Sedangkan sinyal seluler di wilayah yang berbeda akan drop, karena gangguan pancaran repeater tersebut.

Kominfo menegaskan, bagi para pemilik, pedagang atau pengguna perangkat penguat sinyal (Repeater) dihimbau untuk tidak menggunakan perangkat tersebut karena akan melanggar UU  Telekomunikasi yakni, Pasal 32 ayat (1) menyebutkan “Perangkat telekomunikasi yang diperdagangkan, dibuat, dirakit, dimasukkan dan atau digunakan di wilayah Republik Indonesia wajib memperhatikan persyaratan teknis dan berdasarkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Pasal 38 menyebutkan “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan gangguan fisik dan elektromagnetik terhadap penyelenggaraan telekomunikasi”.

Pasal 52 menyebutkan “Barang siapa memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan, atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah negara Republik Indonesia yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana diatur dalam pasal 32 (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau denda paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah), dan Pasal 55 menuebutkan “Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”

Sedangkan diketahui peran pemerintah daerahlah untuk menertibkannya, selain banyak dampak dari yang diakibatkan, aturan yang dilanggar, juga kerugian terhadap daerah. Namun, sampai dengan sekarang tidak ada tindakan tegasnya, seolah olah yang terkesan pada dibiarkan. (Fathul Ridhoni)


Baca Juga

IKOBA Kotawaringin Barat Lesehan Sosialisasi Keselamatan Berkendara

Kotawaringin Barat, Lintas10.com- Dalam menyikapi operasi zebra yang saat ini dilaksanakan secara nasional sedang dilaksanakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.