Penyaluran Benih Jagung P89 Bantuan Pemerintah di Humbahas Diduga Jadi Ajang Pungli, Seret Nama Oknum Kepala Desa

Lintas SUMUT97 kali dibaca

Humbahas, Lintas 10.com – Dugaan praktik Pungutan Liar (Pungli) tentang penyaluran 45 Ton bibit jagung P89 Tahun Anggaran 2025 di Kecamatan Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang, Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyeret nama oknum Kepala Desa berinisial RIN.

Sumber media ini mengatakan, bahwa benih jagung P89 yang mereka terima tahun 2025 lalu diduga dipungut biaya sebesar Rp. 15.000 per bungkusnya (kemasan 1 kilogram) dengan dalih bibit tersebut adalah hasil koordinasi sang kepala Desa Ke Dinas Pertanian Humbang Hasundutan.

Ironisnya, bantuan benih jagung yang disalurkan kepada para petani yang dianggarkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetapi saat membagikan kepada masyarakat diduga malah dibebankan biaya kepada para petani.

“Kami dipungut biaya Rp 15.000, per bungkusnya (kemasan 1 kilogram ), jadi kalau mau 5 bungkus, kami dipungut Rp 75.000, karena kata Kades bibit tersebut adalah hasil lobbiannya ke Dinas Pertanian, jadi harus ada uang terimakasih ke Dinas dan ongkos menjemput bibit ‘ujar warga penerima bibit jagung P 89 tersebut yang meminta namanya agar dirahasiakan, Sabtu (14/03/2026).

Sumber juga mengatakan bahwa kutipan tersebut sudah selayaknya dilakukan pendalaman oleh Aparat Penegak Hukum (APH). Hal ini dikatakan sumber, bahwa aliran dana hasil dari dugaan pungli tersebut diduga mengalir ke oknum Dinas Pertanian Humbahas.

Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan, melalui eks Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH ) Yonepta Habeahan kepada Lintas10.com mengatakan tidak mengetahui perihal kutipan uang dalih perongkosan yang dimintai kepada para kelompok tani.

” Nggak tau kalau ada kutipan, aku gak tau sama sekali ” bantah Yonepta Habeahan menjelaskan.

Terkuak!! Penyaluran Bantuan Pemerintah Benih Jagung Kepada Kelompok Tani Kualitas Rendah, Ancam Petani Merugi !

Baca Juga:  Praktik Prostitusi Milik Oknum Pensiunan Polisi Resahkan Warga, Lurah Tanjung Sari Medan Selayang Katakan Begini

Sebelumnya, Warga sekaligus tokoh masyarakat Desa Baringin Natam Parlilitan Sahat Siringo Ringo mengungkapkan kekecewaannya akan kwalitas dan hasil panen dari benih jagung P89 yang mereka tanam tahun lalu. Menurut Sahat menjelaskan, banyak rugi petani akibat menanam bibit jagung P89.

Penegasan itu disampaikan Sahat menyusul adanya ketimpangan hasil yang didapatkan dari benih bantuan pemerintah. Para kelompok tani bukannya untung malah buntung imbas menggunakan benih P89. Dia meminta kepada pemerintah agar tidak menjadikan masyarakat sebagai kelinci percobaan.

Lebih jauh Sahat mengutarakan hasil menggunakan benih komersil P32 dengan benih bantuan Pemerintah P89 terpaut jauh dari hasil panen yang dialami para petani.

” Sebelumnya ada saya tanam 4 kg bibit jagung P89, hasilnya hanya 200 kg. Padahal ketika kami menanam jagung 4 kg benih komersil, hasilnya sudah dapat 1 ton . Masih ada sisa bibit jagung dari pemerintah itu, dan tidak saya tanam lagi” katanya.

Tambahnya, hal ini diperparah dari penyaluran bibit jagung yang disalurkan Dinas Pertanian Humbahas P89 rawan busuk tungkul, sebelum waktunya panen, jagung sudah membusuk. Hasilnya membusuk dan tidak memuaskan.

Sahat menduga ada kejanggaallan dalam kwalitas bibit jagung yang dibagikan, serta berharap menjadi atensi aparat penegak hukum.

” Saya sendiri yang sudah menanam , apakah ini dioplos ? ” tandasnya.

Diketahui, untuk wilayah PAPATAR, para petani umumnya memakai benih jagung P32. Dan menurut masyarakat bahwa benih P32 sudah cocok dengan kondisi iklim di daerah mereka.

Menanggapi hal tersebut Yonepta Habeahan mengakui bahwa benih jagung dari bantuan pemerintah itu memang kualiatas umum dua. Secara tersirat, Yonepta juga mengetahui akan dampak yang akan dialami warga sebelum penyaluran benih P89 dilakukan.

Baca Juga:  Orang Tua Siswa di Yayasan Pendidikan Islam Haji Masri Mengeluh diwajibkan Membeli Buku dengan Harga Mahal

Yonepta Habeahan juga meminta para petani untuk tidak membandingkan dengan benih P32 yang digunakan para petani sebelumnya. Kelompok tani tidak bisa menyamakan hasil dengan menggunakan bibit komersil dengan yang disalurkan pemerintah memang kualitas umum dua kata dia.

” Ada memang perbedaan kelas antara P32 dan P89 itu. P32 itu adalah nomor satu, dan bibit yang disalurkan pemerintah itu memang adalah kualitas umum dua dan benih yang disalurkan itu gak bisa menyamai kualitas P32 paling tidak setengahnyalah ” ujar Yonepta Habeahan.

Disinggung, mengapa pemerintah memberikan bantuan yang dianggarkan dari APBN tidak memberikan yang terbaik kepada masyarakat, pemerintah sengaja membuat para petani merugi?

” Iya memang sesuai yang dianggarkan memang dana yang dianggarkan di APBN memang harus kelas umum 2 karena harga yang biasa digunakan petani P32 jauh lebih mahal dikisaran 130 ribu per kilogram bibit” ucap Yonepta.

Menariknya, bantuan pemerintah berupa benih jagung P89 bukanlah yang terbaik. Benih jagung P32 masih jauh lebih unggul namun pemerintah mengangarkan alokasi dana yang cukup besar yang pada akhirnya membuat para petani merugi.

Data diperoleh, terdapat selisih harga benih jagung dipasaran, yakni Harga P89 dipasaran harga kisaran 95 ribu rupiah sedangkan benih P32 di pasaran dikisaran harga 130 ribu rupiah pertiap kemasan isi 1 kilo gram benih.

Diberitakan sebelumnya, penyaluran bantuan bibit jagung P89 kepada para petani di tiga kecamatan di Humbang Hasundutan (Humbahas) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mendapat sorotan tajam publik pasca bibit unggul versi pemerintah yang digadang gadang sebagai bentuk ketahanan pangan justru meninggalkan jejak trauma mendalam kepada petani untuk menggunakan kembali bibit jagung yang sebelumnya disalurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Humbahas.

Baca Juga:  Terkuak ! Kombes Hendria Lesmana Dinilai Gagal Menjaga Kamtibmas, Perjudian di Desa Bakaran Batu Tak Mampu Diusut Tuntas !

Para petani mengaku bahwa bibit jagung yang mereka gunakan tidaklah sesuai di wilayah Kecamatan Pakkat, Parlilitan, Tarabintang (Papatar). Hal ini dikatakan warga, bahwa bibit jagung P89 gampang busuk pada tungkul dan buah jagung sehingga para petani terancam merugi atas bantuan bibit dari pemerintah tersebut.

Bibit jagung P89 yang disalurkan Dinas Pertanian Humbahas pada bulan Mei 2025 silam sebanyak 45 Ton berbuntut panjang. Dampak kerugian para petani mengungkap tabir terselubung.

Warga Kecamatan Pakkat inisial (PM) kepada wartawan mengatakan menyesal menggunakan bibit jagung bantuan pemerintah itu. Hal ini pun telah menjadi buah bibir dikalangan masyarakat PAPATAR. Betapa tidak, dikatakan PM yang diikut sertakan sebagai penerima bantuan diduga dipalak uang 15 ribu sampai 20 ribu rupiah per 1 kemasan bibit jagung isi 1 kilo gram dengan dalih perongkosan untuk pemerintah yang menyalurkan bantuan.

” Namanya saja bantuan, tapi penerima dimintai juga uang ongkos kepada para petani ” ujar sumber kepada Lintas10.com.

Senada dengan keterangan PM, warga Kecamatan Tarabintang inisial NH juga mengatakan cukup trauma menggunakan bibit P89 bantuan pemerintah itu. Hal ini dikatakan NH bahwa harapan para petani yang menggantungkan hidup dari hasil Pertanian justru menelan pil pahit.

” Kami hidup dari hasil bertani. Dan siklus Pertanian disini ada tiga musim, jika gagal sekali ini saja kita sudah trauma ” ujar NH yang menunjukkan bibit P89 disisi pojok rumahnya yang tidak dipakai lagi.

Begitu juga warga Kecamatan Parlilitan inisial nama PN mengatakan cukup sekali saja menggunakan bibit batuan pemerintah tersebut.

” Kita petani sudah pasti tujuannya hasil. Kalau melihat bibit ini betul tidak cocok didaerah sini ” sebutnya. (TIM/RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses