Komandan Banser Kab. Cirebon Keluarkan Instruksi Terkait Cuitan Rachland Nashidik yang Menyeret Makam Gus Dur

lintas Jawa Barat947 kali dibaca

Cirebon, lintas10.com – Kasatkorcab atau Komandan Banser Kabupaten Cirebon, Syarif Ahmad Tholib bin Yahya, menginstruksikan kepada seluruh anggota Banser di wilayahnya agar siap untuk melawan, jika ada yang mengutak-atik apa pun yang berhubungan dengan makbaroh Gus Dur.

“Saya instruksikan kepada seluruh anggota Banser Kabupaten Cirebon untuk bersedia melaksanakan tugas ini jika dipenrintah,” tulis Komandan Banser yang akrab disapa Olib Yahya, dalam grup whatsapp.

Instruksi tersebut menyusul ramainya kicauan elite DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik yang menyeret-nyeret soal makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam polemik pembangunan Museum SBY-Ani.

Sebelumnya Ketua Bidang Kajian Strategis Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor sekaligus Panglima Densus 99 Banser, Muhammad Nuruzzaman, disebut naik pitam dan mempertanyakan cuitan petinggi Partai Demokrat tersebut.

“Mohon maaf, kenapa bawa-bawa Gus Dur? Cc @Jemmy_biru ini bisa kemana mana…,” tulis Nuruzzaman di akun Twitter pribadinya, @noeruzzaman, Sabtu (20/2/2021).

Kendati demikian Nuruzzaman kepada Lintas10.com menolak disebut naik pitam. Menurutnya dia cuma bertanya dan mention langsung ke kader Demokrat tersebut sebagai tabayun.

Nuruzzaman juga mengaku terkejut cuitannya ternyata kemudian dijadikan berita oleh wartawan dari sebuah media online. “Saya cuma bertanya, bukan marah-marah. Tapi judul beritanya medeni (bikin takut),” ujarnya.

Menyeret Makam Gus Dur

Reaksi dari dari Banser itu bermula dari kicauan Rachland Nashidik terkait polemik pembangunan Museum dan Galeri Seni SBY ANI Pacitan, Jawa Timur. Ia menilai bahwa musem semacam itu wajar saja ada di Indonesia.

Kicauan Rachland itu mendapat respon dari netizen @EAndalusy. “Memang tdk ada yg salah dan tdk ada yg menyalahkan kalau pembiayaan pembangunannya bersumber dari pribadi, yg bikin prihatin dan tuhan tidak suka kok teganya dimasa krisis pandemi ini ada yg ngemis anggaran hanya demi museum keluarga,” tulisnya.

Baca Juga:  Pemdaprov Jabar Beri Penghargaan Pelaku dan Insan UMKM

Nah, ketika menjawab komentar nitizen inilah Rachland menyeret makam almarhum Gus Dur di dalam polemik tersebut.

“Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov — itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga. Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?,” tulis Rachland di akun twitternya @RachlanNashidik, Rabu (17/2).

Di komentarnya itu, Rachland juga menautkan sebuah berita dari Kompas.com dengan judul “Makam Gus Dur Dibuat Senyaman Mungkin” yang diterbitkan pada hari Senin 20 September 2010 pukul 18.51 WIB.

Akibat cuitannya itu Rachland juga mendapat somasi dari Dewan Pimpinan Pusat BARIKADE (Barisan Kader) Gus Dur, lewat surat terbuka tertanggal 19 Pebruari 2021 yang ditandatangani H.P
riyo Sambadha MBA selaku Ketua Umum dan Pasang Haro Rajagukguk selaku Sekjen sekaligus kuasa hukum DPP Barikade Gus Dur.

Untuk dan atas nama Keluarga dan kader Gus Dur seluruh Indonesia, DPP Barikade Gus meminta Rachland Nashidik membuat permohonan maaf atas cuitannya yang dinilai tidak tepat, tendensius dan melecehkan itu.

Rachland Nashidik sudah menyatakan permohonan maafnya, dan memberikan klarifikasi secara panjang lebar, antata lain sebagai berikut:

“Saya sudah membaca ulang twit saya dan menyadari bahwa tanpa membaca berita Kompas itu Netizen bisa salah mengerti. Bahwa yang dibangun bukanlah makam itu sendiri, melainkan fasilitas publiknya. Meski tidak juga bisa dibantah bahwa fasilitas yang melengkapi makam itu dibangun negara sebagai wujud penghormatan pada Presiden Abdurrahman Wahid. Saya memohon maaf.

“Saya sendiri menganggap diri saya sebagai murid Gus Dur dalam ajaran kebhinekaan dan demokrasi. Saya adalah anggota pengurus dari Forum Demokrasi yang dahulu dipimpin Gus Dur. Hubungan personal kami juga dekat, bahkan beliau adalah salah satu dari beberapa senior yang menyumbang bagi biaya pernikahan saya, 1996, disamping Adnan Buyung Nasution, Rahman Tolleng dan Sjahrir.

Baca Juga:  Jalan Winaon Tiba-tiba Ditutup, Ada Apa Dengan Cirebon?

“Saat Gus Dur wafat, sebagai Direktur Eksekutif Imparsial, lembaga pengawas HAM, saya menyampaikan pernyataan yang dikutip oleh Tempo bahwa wafatnya Gus Dur adalah kehilangan tak terkira bagi bangsa Indonesia, bagi perjuangan pluralisme, serta kebebasan beragama”

Berita yang dimuat Kompas.com Senin 20 September 2010 itu memang tidak menyebutkan pemerintah tidak membangun makam Gus Dur, melainkan membangun infrastruktur di kawasan makam yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses