oleh

Warga Seruyan Keluhkan Pom Mini Yang Jual Bensin Tak Sesuai Volume Literan

Last Updated: 05 Okt 2019

Lintas10.com (Seruyan/Kalteng) – Meski dirasa membantu masyarakat, keberadaan Pertamini ternyata juga dikeluhkan, karena jumlah takarannya (liter) berbeda saat konsumen membelinya di salah satu pertamini yang ada di wilayah Kota Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Penjual bahan bakar minyak (BBM) eceran dengan sistem digital bertajuk Pertamini kian menjamur di Kabupaten Seruyan, kususnya di ibu kota Kuala Pembuang. Sayang, selain pada dikeluhkan dengan adanya isinya yang kurang, juga tak berizin, kehadirannya juga diklaim membahayakan konsumen.

Meski dirasa membantu masyarakat, keberadaan Pertamini ternyata juga dikeluhkan karena jumlah takarannya (liter) berbeda saat konsumen membeli di SPBU. Terlebih dari sisi keselamatan juga sangat berbahaya. Dimana sering dikabarkan sering terjadi kebakaran yang disebabkan oleh pom mini.

Dari pantauan Lintas10, di Kabupaten Seruyan Pertamini sudah tersebar seluruh kecamatan. Bahkan, ada yang letaknya tidak jauh dari SPBU, kurang dari 1 kilometer. Jarak masing-masing Pertamini juga tidak terlalu jauh.

Informasi yang dihimpun, dimana Pertamini ditegaskan bukan unit bisnis dari Pertamina dan tergolong pengetap. Secara izin juga tidak ada dari Pertamina.

Ini cukup disesalkan karena sudah jelas dalam aturan bahwa untuk melakukan kegiatan usaha niaga hilir migas harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

Sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas, badan usaha dapat melaksanakan kegiatan usaha hilir setelah mendapatkan izin usaha dari pemerintah. Izin usahanya antara lain, izin usaha pengolahan, izin usaha pengangkutan, izin usaha penyimpanan dan izin usaha niaga.

Dan seluruh poin izin usaha tersebut memiliki muatan hukum yang bila dilanggar akan ada sanksi hingga denda.

Memudian, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, disebutkan bahwa TBBM, depot, penyalur yang dalam hal ini dapat disebut SPBU adalah tempat untuk melakukan penimbunan dan penyaluran BBM yang dimiliki atau dikuasai PT Pertamina atau badan usaha.

Dan selain itu juga Pertamina tidak bisa menindak para oknum-oknum tersebut, karena yang berwenang adalah pemerintah.

Seperti halnya dimana dari sisi takaran, pom mini ini tidak bisa dipastikan, berbeda dengan SPBU. Tiap tahunnya pasti ada pengecekan dari Unit Metrologi Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan setempat.

Halnya seperti yang terjadi dan dialami oleh salah seorang warga Kabupaten Seruyan, Rahman, Jumat (4/10/2019), di Kuala Pembuang, saat menemui Lintas10 dengan mengungkapkan keluhannya, dimana saat dibelinya pada salah satu pom mini yang ada di wilayah kuala pembuang, dengan menggunakan botol air mineral isi 1 liter, yang didapatnya isi jauh sekali kurangnya, dimana yang diperkurakan 300ml kurangnya dari isi yang sebenarnya.

“Aneh, disaat saya membeli dengan
menggunakan botol air mineral isi 1 liter, yang didapatnya isi jauh sekali kurangnya, dimana yang diperkurakan 300ml kurangnya dari isi yang sebenarnya, pastas saja apabila saya beli dengan mengisikannya secara langsung, kadang-kadang saya merasa aneh, kenapa motor saya ko boros sekali, sehingga sering saya service kan, tetapi berulang kali tetap juga dengan terjadi, o…mungkin lantaran isinya yang memang diduga distel dengan kurang ya?…,” ujar Rahman.

Selain itu, diketahui dari sisi safety juga sangat berbahaya. Alat seperti dispensernya tidak sesuai ketentuan yang berlaku.

Adapun untuk harga standar dispenser yang ada di SPBU sekitar Rp 150 juta. Sedangkan yang ada di pom mini ini berkisar Rp 10 – 15 juta.

Salah seorang pengamat migas yang ada di kabupaten seruyan, Ahmad, kepada lintas10, Jumat (4/10/2019), mengatakan, dimana Dia menilai, pom mini ini sangat jauh dari kata aman. Masyarakat kerap menaruh dispenser dan tempat penampungan BBM dengan asal-asalan. Bahkan beberapa di antaranya menaruh di halaman rumah.

“Tidak sedikit kita lihat pom mini ini dekat dengan kawasan pada penduduk. Bahkan, ada yang menjual di area depan toko kelontong, warung makan, apotik, Intinya, jika segitiga (udara, BBM, dan sumber panas) terhubung maka pemicu timbulnya api tinggal menunggu waktu. Ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan SPBU,” terangnya.

Ia menjelaskan, keamanan dan pentingnya keselamatan di SPBU sangat diperhatikan. Mulai dari bagaimana perilaku konsumen di SPBU, lokasi, jarak antara penampungan BBM dan dispenser sangat diperhatikan.

Sebagai contoh, jarak antara penampungan BBM dan dispenser itu minimal 7,5 meter. Selain itu, tempat penampungan juga harus di bawah, tidak boleh di atas tanah.
Dindingnya juga tidak bisa sembarangan. Jarak dengan gardu listrik minimal 20 meter. Selain itu, kelistrikan harus diperhatikan. Tidak boleh dispenser dengan kelistrikan berdekatan. Kecuali, dispenser memiliki explosion proof. Jarak dekat tidak masalah.

“Untuk konsumen juga diberikan aturan jika di SPBU. Pertama, mereka tidak boleh merokok, menerima telepon sangat mengisi BBM, posisi mesin juga harus mati sangat mengisi, dan mengisi BBM tidak boleh menggunakan wadah atau jeriken plastik. Kalau di pom mini saya tidak tahu, apakah mereka memikirkan aspek keselamatan itu,” ungkapnya.

Menurutnya, di SPBU paling ditakuti adalah plastik. Listrik statis yang diciptakan dari bahan plastik ini sangat mudah memicu api.

“Kalau di pom mini ini terjadi sesuatu hal yang tidak diduga atau kebakaran yang disalahkan siapa? Ya mereka ini harusnya sadar akan keamanan, tidak memikirkan untung semata. Dulu para pengetap ini hanya menggunakan botol, sekarang sudah memakai dispenser listrik. Sangat berbahaya,” tuturnya.

Informasi yang didapat, diketahui bahwa Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (DPMPT) Kabupaten Seruyan untuk Pertamini atau pom mini tidak ada mengeluarkan (izin) untuk pom mini. (Fathul Ridhoni)

Komentar

Jangan Lewatkan