Cirebon, lintas10.com – Petani tambak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kembali dibayangi ancaman banjir rob atau pasangnya air laut yang merendam daratan. Kali ini ancaman tersebut datangnya dari fenomena La Nina, yang juga diprediksi dapat menyebabkan pasangnya air laut.
Pada pertengahan tahun 2020 lalu, banjir rob yang cukup besar pernah melanda Indramayu. Menyebabkan ribuan rumah penduduk terendam, sejumlah tanggul jebol, dan ribuan ton ikan bandeng dan udang di tambak ludes.
Menurut Ketua Dewan Pengurus Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia ((DPD KNTI) Kabupaten Indramayu, Carikam, kerugian yang diderita para petani tambak waktu itu mencapai lebih Rp30 miliar. “Itu baru menghitung kerugian biaya produksi saja, jika dihitung kerugian akibat hilangnya keuntungan dengan ukuran harga jual ikan dan udang, akan lebih besar lagi,” katanya.
Banjir rob di Indramayu waktu itu terjadi di Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntiyuat, Balongan, Indramayu, Pasekan, Sindang, Cantigi, Arahan, Lohbener, Losarang, Kandanghaur, Sukra, dan Kecamatan Patrol. Sedangkan luas tambak di Indramayu, menurut Carikam, seluruhnya sekitar 20 ribu hektar. Tapi lebih dari separuhnya terendam banjir rob. Akibatnya, budidaya udang dan bandeng pun hanyut terbawa banjir.
Terkait fenomena La Nina sekarang ini, telah diadakan Apel Siaga Bencana, pada Jumat 6 November 2020, di halaman Polres Indramayu. Seperti dikutip dari PikiranRakyat-Indramayu.com, pada kesempatan itu Pjs. Bupati Indramayu Bambang Tirtoyuliono mengungkapkan, berdasarkan data kebencanaan di Kabupaten Indramayu, hidrometeorologi berpotensi timbulkan bencana gelombang pasang atau rob di wilayah Kabupaten Indramayu.
Umumnya terjadi di 10 kecamatan di antaranya, Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Pasekan, Losarang, Kandanghaur, Patrol dan Sukra. Sementara itu, untuk daerah yang banjir, umumnya terjadi di 8 wilayah kecamatan seperti Sukagumiwang, Kertasemaya, Jatibarang, Tukdana, Lohbener, Sindang, Losarang dan Terisi.
“Secara kolektif perlu dilakukan langkah-langkah mitigasi. Antara lain melalui upaya edukasi preventif dan upaya responsif tanggap darurat oleh seluruh pihak, baik pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan maupun masyarakat secara kolektif dan kolaboratif melakukan penanganan bencana. Ini dilakukan sebagai upaya mengurangi cakupan wilayah yang terdampak bencana, kerugian harta benda, bahkan korban jiwa,” tegas Bambang.
Sebagai upaya antisipasi telah pula dibentuk 61 kampung tangguh bencana, serta mengoptimalkan peran Pos Komando Siaga Darurat Bencana yang telah dibentuk. Selain itu, melakukan edukasi preventif bahkan tindakan responsif tanggap darurat ketika terjadi bencana. ***







