KALTENG, lintas10.com-Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air I (Kasatker PJPA I) BWS Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah kembali mengambil langkah besar untuk memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ekonomi daerah. Melalui Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) 2025.
Berupaya menghidupkan kembali lahan-lahan yang sebelumnya kurang produktif sekaligus memperluas cakupan lahan yang bisa ditanami lebih dari satu musim dalam setahun.
Program ini berjalan dengan mekanisme swakelola yang memberi kebebasan bagi petani untuk mengelola kegiatan sesuai kebutuhan lapangan, terutama di wilayah yang selama ini tidak pernah tersentuh bantuan infrastruktur pertanian. Dampak nyata dari mekanisme ini terlihat pada pembangunan infrastruktur air di berbagai lokasi. Banyak daerah terpencil kini dapat menikmati akses air untuk pertama kalinya, meningkatkan peluang menanam padi lebih dari satu kali setahun.

Menurut Yakubson, ST., MT Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air I (Kasatker PJPA I) BWS Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah melalui Marihot Pasaribu, ST PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) Irigasi dan Rawa II PJPA I Kalimantan II Provinsi Kalimantan Tengah.
Keberhasilan tersebut bukan hanya soal angka, tetapi menjadi bukti bahwa petani mampu menjadi motor pembangunan ketika diberi ruang untuk mengelola program.
“Melalui Oplah Irigasi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja jaringan irigasi guna mendukung ketahanan pangan dan memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Dengan adanya program ini dapat membuktikan bahwa dengan manajemen air yang baik dan perbaikan jaringan irigasi, sumber daya air dapat dimanfaatkan secara maksimal dan merata sampai ke petak sawah terkecil,” ujar Marihot Pasaribu ST, senin (27/4/2026) kepada media ini.
Upaya ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan, serta menjadikan Indonesia negara yang mandiri dalam produksi pangan.
“Kita di fokuskan dalam peningkatan hasil pertanian,” terangnya.
Ia pun kembali menegaskan bahwa OPLAH bukan hanya program teknis, tetapi gerakan besar untuk mewujudkan kedaulatan pangan di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah berkomitmen menjaga transparansi, memperkuat pengawasan, dan memastikan berjalan dengan baik dilapangan.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan memberikan dampak yang cukup positif,” imbuhnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, program OPLAH menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur air dan dukungan sarana produksi bagi petani. Salah satu komponen penting adalah perbaikan saluran irigasi, normalisasi alur air, hingga pemanfaatan sumber air baru. Langkah ini dinilai sangat penting bagi wilayah yang sebelumnya hanya mampu menanam padi sekali setahun, karena kini membuka peluang peningkatan indeks penanaman.
“OPLAH kini dirasakan langsung oleh petani, Banyak dari mereka yang selama bertahun-tahun tidak pernah menerima bantuan kini dapat menanam padi setidaknya sekali dalam setahun, bahkan memiliki peluang memperluas pola tanam,” katanya.
Program OPLAH kini masih terus bergulir dan berkelanjutan mendukung masyarakat sebagai petani terutama di Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten lainnya yang memang menjadi titik fokus tahun 2025 dilakukan pengangkatan lumpur pada jaringan irigasi.
“Ini akan berkelanjutan sesuai wilayah tugas kami,” sebut Marihot. (Adnan)








