Home / Provinsi Kalimantan Tengah / Surat-Surat Aneh Penolakan Bermunculan Pasca Demo Masyarakat Adat Laman Kinipan

Surat-Surat Aneh Penolakan Bermunculan Pasca Demo Masyarakat Adat Laman Kinipan

Kotawaringin Barat, Lintas10.com-Tangan-tangan jahil sepertinya sudah semakin agresif bergentayangan untuk membuat keruh suasana pasca demo yang dilakukan oleh Masyarakat Laman Adat Kinipan ke Gedung DPRD Kabupaten Lamandau tanggal 8 Oktober 2018 lalu.

Efendi Buhing, SH sebagai yang dipercayakan oleh Masyarakat Adat Laman Kinipan kepada Lintas10.com mengatakan, bahwa pihaknya tidak ada urusan dengan area desa lain juga masyarakatnya.

Untuk desa lain, silakan berbuat apapun terhadap area hutan dan lahan diseputar desanya, kami tidak ada kepentingan dan urusan tentang kebijakan desa lain.

Yang kami perjuangkan, adalah khusus Laman Kinipan yang secara de Jure dan de Facto kami punya hak untuk mempertahankan isi hutan dan lahan didalam peta desa kami.

Sekarang, kata Efendi Buhing, banyak surat penolakan dan tidak mengakui dirinya sebagai koordinator dalam memperjuangkan mempertahankan potensi hutan dan lahan yang saat ini sudah dijarah dengan semena-mena oleh PT. SML.

Desa yang aneh tapi nyata mengirim surat penolakan yang PT. SML mendapat tembusan adalah dari Desa Suja, Penopa, Desa Samu Jaya (ex Transmigrasi) Tapin Bini dan Desa Cuhai.

Desa-Desa tersebut diatas sama sekali tidak berbatasan langsung dengan Desa Kinipan dan bahkan ada yang terlapis jauh oleh desa lain.

Apa urusan mereka dengan kepentingan Desa Kinipan, ujar Efendi Buhing. Tapi sepertinya ini adalah pekerjaan tangan-tangan yang ingin menghadu domba masyarakat desa di Kecamatan Batang Kawa yang sebelum adanya investor kelapa sawit kami tenang-tenang saja setelah adanya usaha perkebunan sawit ini malah suasana dibikin keruh, saling hantam sesama masyarakat desa.

Saat ini lebih kurang 1400 an hektar hutan adat Laman Kinipan sudah dibuka paksa oleh PT SML, dengan potensi hutan berupa kayu ulin, meranti, bengkirai dan lain-lain sudah diambil dan diangkut oleh pihak PT SML keluar dari lahan yang sudah dibuka tersebut entah dengan menggunakan ijin apa lagi sehingga kayu-kayu dalam bentuk mekanis tersebut bisa diangkut keluar.

Saat Deklarasi Perlindungan Hutan Adat untuk Kecamatan Batang Kawa Kabupaten Lamandau yang dilaksanakan tanggal 30 Mei 2016 semua Kepala Desa dan Demang Pemangku Adat, Tokoh Adat hadir dan menandatangani daftar hadir.

Yang makin aneh lagi satu-satunya desa yang Kepala Desa dan Tokoh Adat serta Tokoh masyarakatnya hadir dan menandatangani daftar hadir, seperti Desa Karang Taba, sekarang jadi ikutan latah menolak, ada apa ini dengan Orang Desa Karang Taba.

Pada hal menurut ketentuan kesepakatan bahwa kalau ada sanggahan atau penolakan dapat dilakukan sebelum.terjadinya deklarasi atau paling lama enam bulan setelahnya.

Ini baru dilakukan saat kami Masyarakat Adat Laman Kinipan melakukan aksi, ini sudah semakin meyakinkan kami bahwa masyarakat ingin dibenturkan untuk saling adu kuat atas kepentingan pengusaha atau investor yang tidak beretika apalagi beradat istiadat.

Ditambah lagi bahwa saya, Efendi Buhing dengan segala aksi kami sudah terdengar dari sosok Pemimpin Daerah kami yang baru dilantik bahwa posisi saya tidak ada dasar hukumnya.

Beliau itu Pemimpin daerah kami yang harus berdiri ditengah dalam segala persoalan yang dihadapi masyarakat dan tempat bersolusi yang tepat untuk mengayomi atau utusan pengusaha, kata Efendi Buhing agak meninggi.(AT)


Baca Juga

IKOBA Kotawaringin Barat Lesehan Sosialisasi Keselamatan Berkendara

Kotawaringin Barat, Lintas10.com- Dalam menyikapi operasi zebra yang saat ini dilaksanakan secara nasional sedang dilaksanakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.