PERS Dan ‘Benalu’ Yang Tumbuh Bersamanya (Kado Buat Wartawan)

lintas Jawa Barat364 kali dibaca

Oleh: Taufik Fathoni

Beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal 9 Pebruari nanti, kita akan memperingati Hari Pers Nasional. Mengingat pentingnya peranan pers dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peringatan tersebut tentunya tidak cukup hanya ditandai dengan berbagai kegiatan yang bersifat seremonial. Tetapi harus dijadikan momentum bagi pencarian solusi, atas berbagai masalah yang dihadapi pers nasional dewasa ini.

Sebagaimana kita semua ketahui, pers sering dipandang sebagai alat perjuangan. Dan pada kenyataannya, perjuangan politik di negara mana pun memang selalu melibatkan pers didalamnya. Di Indonesia sendiri, pada zaman Orde Lama banyak bermunculan pers yang secara terang-terangan tampil sebagai partisan dari kekuatan politik tertentu.

Tapi ironisnya, sebagai alat perjuangan pers tidak memiliki kekuatan untuk menjaga wibawa dan martabatnya sendiri, dari pencemaran yang dilakukan oleh oknum yang berasal dari luar dirinya. Sehingga orang bisa dengan mudah mengaku sebagai wartawan, dengan maksud dan tujuan yang bermacam-macam. Ada yang melakukannya untuk sekadar gagah-gagahan, dan tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai modus kejahatan.

Semua itu dilakukan tanpa rasa takut menghadapi resiko dari organisasi pers. Berbeda misalnya jika orang mengaku sebagai anggota TNI atau Polri. Tentunya dia akan berpikir seribu kali. Walaupun ada saja orang yang nekad melakukannya.

Dalam perjalanan sejarahnya, pers di Indonesia memang kerap terbentur oleh masalah yang harus dihadapi. Pada zaman Orde Lama sampai Orde Baru, pers kita mengalami pengekangan sampai pada ancaman pembredelan. Rosihan Anwar menggambarkannya sebagai “pers yang tiarap”. Dan sekarang, di era reformasi, ketika pers mulai menikmati kebebasannya justru harus pula menghadapi ekses dari kebebasan pers itu sendiri.

Pasalnya, pintu bagi kebebasan pers yang dulu dibuka Gus Dur memang belum diikuti dengan penataan secara memadai. Sehingga kebebasan pers sekarang ini lebih ditandai dengan bermunculannya pers abal-abal, beserta wartawannya yang juga abal-abal. Mereka itu menjadi benalu yang ikut tumbuh di era kebebasan pers sekarang ini. Benalu yang merusak kehidupan pers dan menjadikan wajah pers kita nampak buruk di mata masyarakat.

Baca Juga:  Bencana Puting Beliung Terjadi Lagi di Kabupaten Cirebon

Kita patut menyesali jika kebebasan pers yang selama ini diperjuangkan oleh insan pers sejati, akhirnya malah dinikmati oleh oknum-oknum yang merendahkan wibawa pers itu sendiri. Oleh karena itu pula, sudah waktunya para pejuang pers mulai merumuskan langkah-langkah untuk mem-follow up kebebasan yang dulu pintunya sudah dibuka oleh Gus Dur. Sehingga pers sekarang ini bukan hanya memiliki kebebasan dalam kiprahnya, tapi juga tetap terjaga kehormatan dan wibawanya.

Tidak ada salahnya jika Hari Pers Nasional tahun ini dijadikan momentum untuk mengawali langkah ke arah sana. Bravo pers nasional ! ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses